Pendahuluan
Ketika jumlah pelanggan internet mulai bertambah, satu koneksi internet sering kali tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan bandwidth. Solusi yang umum digunakan oleh penyedia layanan internet (ISP) maupun administrator jaringan adalah menambahkan lebih dari satu koneksi upstream.
Pada RouterOS v7, MikroTik menyediakan fitur Policy Routing yang memungkinkan administrator mengarahkan kelompok pelanggan tertentu ke jalur internet yang berbeda. Teknik ini sangat berguna untuk membagi beban trafik tanpa harus menggunakan metode load balancing seperti PCC atau ECMP.
Artikel ini akan membahas cara memisahkan pelanggan PPPoE ke dua jalur internet berdasarkan alamat IP yang diterima dari server PPPoE.
Studi Kasus
Misalkan sebuah router MikroTik memiliki dua koneksi internet dengan spesifikasi berikut:
| Upstream | Bandwidth |
|---|---|
| ISP A | 200 Mbps |
| ISP B | 100 Mbps |
Server PPPoE berada pada router yang sama.
Target konfigurasi:
- Pelanggan dengan IP 172.16.0.1 – 172.16.0.50 menggunakan ISP A.
- Pelanggan dengan IP 172.16.0.51 – 172.16.0.100 menggunakan ISP B.
Dengan metode ini, setiap pelanggan akan selalu menggunakan jalur internet yang sama sehingga koneksi menjadi lebih konsisten.
Mengapa Menggunakan Policy Routing?
Banyak administrator memilih menggunakan PCC (Per Connection Classifier) untuk membagi trafik internet. Namun, PCC lebih cocok digunakan apabila satu pelanggan diperbolehkan berpindah jalur berdasarkan koneksi yang dibuat.
Untuk jaringan PPPoE, Policy Routing memiliki beberapa keunggulan:
- Jalur internet pelanggan tetap konsisten.
- Tidak terjadi perpindahan ISP saat membuka banyak koneksi.
- Lebih mudah melakukan troubleshooting.
- Cocok digunakan pada jaringan ISP maupun RT/RW Net.
Langkah 1 – Membuat Routing Table
Pada RouterOS v7, setiap jalur internet memerlukan routing table tersendiri.
Masuk ke Terminal dan jalankan perintah berikut.
/routing/table
add fib name=Upstream-A
add fib name=Upstream-B
Pastikan hasilnya seperti berikut.
main
Upstream-A
Upstream-B
Langkah 2 – Membuat Default Route
Misalkan gateway masing-masing ISP adalah:
| ISP | Gateway |
|---|---|
| ISP A | 192.168.0.1 |
| ISP B | 192.168.1.1 |
Tambahkan route untuk masing-masing routing table.
/ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.0.1 routing-table=Upstream-A
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.1.1 routing-table=Upstream-B
Kemudian buat route utama pada tabel main.
/ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.0.1 distance=1
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.1.1 distance=2
Route pada tabel main digunakan oleh router untuk layanan internal seperti DNS, NTP, dan proses sistem lainnya.
Langkah 3 – Membuat Rule Mangle
Selanjutnya lakukan penandaan (mark routing) berdasarkan alamat IP pelanggan.
/ip firewall mangle
add chain=prerouting \
src-address=172.16.0.1-172.16.0.50 \
action=mark-routing \
new-routing-mark=Upstream-A \
passthrough=no
add chain=prerouting \
src-address=172.16.0.51-172.16.0.100 \
action=mark-routing \
new-routing-mark=Upstream-B \
passthrough=no
Parameter passthrough=no digunakan agar paket tidak diproses kembali oleh rule mangle berikutnya setelah routing mark berhasil diterapkan.
Langkah 4 – NAT
Agar pelanggan dapat mengakses internet melalui masing-masing ISP, tambahkan rule masquerade.
/ip firewall nat
add chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade
add chain=srcnat out-interface=ether2 action=masquerade
Sesuaikan nama interface dengan konfigurasi router Anda.
Memastikan Routing Berjalan
Beberapa cara untuk melakukan pengecekan:
Melihat routing table.
/routing/table print
Melihat route.
/ip route print
Melihat rule mangle.
/ip firewall mangle print stats
Kolom Packets dan Bytes akan bertambah apabila rule telah bekerja dengan benar.
Kesalahan yang Sering Terjadi
1. Routing Table Kembali Menjadi Main
Hal ini biasanya terjadi karena administrator mencoba mengubah route yang dibuat secara otomatis oleh DHCP Client atau PPPoE Client.
Route dinamis selalu berada pada tabel main dan tidak dapat dipindahkan.
Solusinya adalah membuat route baru untuk routing table yang telah dibuat.
2. Routing Mark Tidak Berfungsi
Pastikan nama routing mark sama dengan nama routing table.
Contoh:
Routing Table
Upstream-A
Maka pada mangle gunakan:
new-routing-mark=Upstream-A
Perbedaan satu huruf saja dapat menyebabkan rule tidak bekerja.
3. NAT Tidak Dibuat
Meskipun routing sudah benar, pelanggan tetap tidak dapat mengakses internet apabila rule NAT belum dibuat.
Pastikan setiap interface internet memiliki rule masquerade masing-masing.
Tips untuk Jaringan PPPoE
Untuk jumlah pelanggan yang cukup banyak, sebaiknya jangan mengelompokkan pelanggan hanya berdasarkan alamat IP.
Metode yang lebih baik adalah menggunakan beberapa PPPoE Profile atau mengintegrasikan server PPPoE dengan RADIUS. Dengan cara ini, proses pemindahan pelanggan antar jalur internet menjadi jauh lebih mudah tanpa harus mengubah konfigurasi routing.
Penutup
Policy Routing pada MikroTik RouterOS v7 merupakan solusi yang sederhana namun sangat efektif untuk membagi pelanggan ke beberapa jalur internet. Dibandingkan menggunakan metode load balancing, teknik ini memberikan jalur yang lebih konsisten sehingga cocok diterapkan pada jaringan PPPoE, RT/RW Net, maupun ISP skala kecil hingga menengah.
Dengan memahami konsep routing table, mangle, dan NAT, administrator dapat mengatur distribusi trafik secara fleksibel sesuai kebutuhan jaringan.